Trans Thoracic Lung Biopsy Proses

Trans Thoracic Lung Biopsy adalah proses pengambilan sampel jaringan paru (lung biopsy) dengan menggunakan jarum yang ditancapkan di dada. Oleh karena menggunakan jarum sebagai alat maka juga disebut sebagai Fine needle aspiration.
Sebagai langkah awal dalam pelaksanaan TTLB adalah dengan menentukan lokasi dimana jarum akan ditancapkan, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, seperti jarak terdekat dengan jaringan yang akan diambil, lintasan pembuluh darah dan susunan tulang. Untuk keperluan ini diperlukan panduan Computed Tomography Scan (CT Scan), suatu alat berbasis rontgent yang dapat menampilkan gambar potongan melintang dari tubuh kita. Tiga batang logam berukuran panjang 5 cm dengan diameter 5 mm diletakkan membujur di dada, berjarak kurang lebih 2 cm antara satu dan lainnya. Pada monitor CT Scan ketiga batang logam ini tampak seperti bulatan kecil berwarna putih, terletak tepat diatas jaringan yang dicurigai sebagai jaringan kanker. Dari ketiga batang logam, masing-masing ditarik garis lintasan ke jaringan kanker dibawahnya. Lintasan yang paling pendek, lurus dan tidak terhalang baik oleh tulang maupun pembuluh darah besar dipilih. Setelah salah satu batang logam dipilih sebagai patokan, masih diperlukan beberapa kali penyesuaian lagi hingga ditemukan tempat yang benar-benar ideal untuk menancapkan jarum biopsy. Jarak dari jaringan kanker ke permukaan dada yang telah ditandai diukur untuk menentukan ukuran, jenis jarum yang akan dipakai dan seberapa dalam jarum harus ditancapkan.
Setelah lokasi penancapan jarum yang ideal ditetapkan, diberi tanda dan sekitar lokasi penancapan diolesi antiseptic untuk menghindari infeksi. Suntikan bius lokal diberikan dibawah kulit untuk menghilangkan rasa sakit saat jarum ditancapkan. Paru-paru tidak mempunyai syaraf perasa, hingga tidak perlu dibius. Syaraf perasa hanya ada pada lapisan pleura, lapisan yang membungkus paru-paru. Jarum biopsy ditancapkan, arahnya dimonitor dengan bantuan CT scan. Jika arahnya sudah benar, maka jarum biopsy ditancapkan lebih dalam hingga mencapai jaringan kanker. Pada gambar dibawah, tampak jarum telah tertancap di dada dengan kedalaman beberapa cm.
Dari pengukuran kedalaman jaringan kanker ke permukaan dengan bantuan CT Scan, dapat diperkirakan seberapa dalam jarum biopsy harus dimasukkan. Pada tahap ini kembali dilakukan Scan untuk memeriksa apakah arah jarum sudah benar. Pada gambar di bawah tampak jarum sudah masuk semakin dalam, tetapi tertutup oleh tulang. Untuk memeriksanya, dari layar monitor CT Scan dapat dilihat beberapa slice ke arah atas atau bawah dada, untuk memastikan arah jarum.
Jika ujung jarum telah mencapai jaringan kanker, diambil sampel untuk dipelajari di laboratorium Pathology anatomy. Pada gambar di bawah jarum tampak terputus. Ini bisa terjadi karena CT Scan memberi gambar potongan melintang yang tegak lurus sehingga jika posisi jarum sedikit miring, maka ada bagian jarum yang tidak tertangkap oleh CT Scan.
Pada kasusku, dimana ukuran jaringan kanker sudah mencapai 3cm, proses biopsy paling sulit adalah membidik jaringan kanker dengan tepat, sehingga dokter paru harus beberapa kali bolak balik dari ruang CT Scan ke ruang kontrol, dimana terdapat berbagai alat pemantau. Karena CT Scan berbasis Rontgent yang mengeluarkan sinar radiasi, maka saat dilakukan CT Scan petugas medis harus berlindung di ruang kontrol yang di desain dapat menahan sinar radio aktif. Walaupun paparan radio aktif sudah diminimalisir dalam batas aman, tetapi jika terpapar terus menerus dalam waktu lama bisa berakibat buruk pada manusia, misalnya seperti petugas medis yang mengoperasikan alat ini. Kesulitan membidik jaringan kanker ini semakin besar jika jaringan kanker ada pada stadium dini dan berukuran sangat kecil (kurang dari 1 cm). Diperlukan pengalaman, keahlian dan kerja sama dari seluruh team medis untuk keberhasilan biopsy melalui dada atau istilah kedokterannya Trans Thoracic Lung Biopsy
Trans Thoracal Lung Biopsy

Juli 2007. Setelah semalam menginap di Rumah sakit, pagi itu gelisah aku menunggu dokter yang akan melakukan TTLB. Sangat berbeda dengan prosedur TBLB, dimana sebelumnya ada obat yang harus kuminum, puasa 8 jam sebelum tindakan, tetapi pada TTB ini sama sekali tidak ada persiapan khusus yang harus kujalani. Jam 7 lebih sedikit seorang suster datang kepadaku dan mengajakku ke ruang CT Scan. Aku sudah beberapa kali masuk ruangan ini, sehingga sudah sangat hafal dengan segala seluk beluknya, dan sama sekali tidak ada kesan menakutkan seperti ketika aku masuk ruang operasi pada proses TBLB dulu (baca Bronchoscopy & Fluoroscopy). Jika pada proses TBLB dulu ruangan penuh dengan berbagai peralatan pendukung, satu-satunya alat yang kujumpai dalam ruangan CT Scan hanyalah sebuah benda seperti donat besar dengan tempat tidur terletak di tengah-tengahnya. (Sempat terpikir olehku, kalau donatnya segede itu, mestinya buat orang yang bermulut besar.) Keseluruhan unit alat ini dipasang secara diagonal dalam ruangan. Setelah berganti pakaian semacam jubah, kudapati dokter paru sedang berbincang dengan dokter radiologi diruang kontrol yang terletak disebelah ruang CT Scan. Sekilas kudengar mereka sedang memetakan letak berbagai pembuluh darah yang ada dalam paru, berdasar hasil CT Scan terdahulu. Kurasa pemetaan pembuluh darah ini agar tidak ada pembuluh darah besar yang robek tertembus jarum yang digunakan untuk menjangkau jaringan kanker paruku. Sadar aku ikut melongok kedalam ruang kontrol, beberapa paramedis mengajakku masuk ke ruang CT Scan untuk mempersiapkanku. Tak lama kemudian dokter masuk diiringi beberapa paramedis yang mendorong beberapa peralatan di baki beroda. Jubah bagian atasku dibuka kemudian ditutup selembar kain hijau yang berlubang ditengahnya. Untuk menentukan lokasi penancapan jarum, seorang paramedis melekatkan tiga batang logam sepanjang 5 cm dengan diameter kurang lebih 5mm berjajar dalam jarak 2 cm antara satu dan lainnya. Tempat tidurku didorong ketengah lubang si “donat besar” untuk di scan (pada CT Scan ketiga batang logam tampak seperti tiga bulatan kecil berwarma putih karena CT Scan menampilkan potongan melintang). Dari ruang kontrol dilihat batang mana yang tepat berada diatas jaringan kanker dan menunjukkan lintasan paling lurus disela-sela tulang rusuk ke jaringan kanker paruku. Setelah beberapa kali disesuaikan, tempat yang paling tepat diberi tanda. Dadaku diolesi cairan antiseptic yang menurutku seperti betadine yang biasa tersedia di perlengkapan P3K. Tidak ada dokter anesthesia kali ini, karena hanya akan dilakukan pembiusan lokal. Walau tak dapat melihat dengan jelas karena kain hijau menghalangi pandanganku, aku merasa jarum mulai ditancapkan di dadaku. Sepertinya jarum yang berukuran cukup besar dan panjang. Dengan jarum tertancap di dadaku, kembali dilakukan Scaning. Sejenak dokter pergi ke ruang kontrol untuk memastikan jarum yang sudah tertancap benar arahnya. Setelah yakin arahnya benar, jarum ditancapkan semakin dalam. Walau dokter mengatakan bahwa di paru-paru tidak ada syaraf perasa, tetapi ada sedikit rasa ngilu tajam yang menyengat ketika jarum menembus paru. Kembali dilakukan Scan, sementara dokter memeriksa apakah ujung jarum sudah mencapai jaringan kanker paru. Jarum kedua dimasukkan kedalam jarum besar yang telah tertancap didadaku, beberapa cc sampel disedot dan segera dibawa ke laboratorium Pathology Anatomy yang terletak di seberang ruang CT Scan. Jarum dicabut, luka yang tertinggal ditutup kassa tebal dan prosespun berakhir. Hasil pemeriksaan Pathology Anatomi akan selesai dalam waktu 1 minggu mendatang.
Pleural Mesothelioma

Masih tentang jenis kanker paru, ada satu jenis kanker yang sebetulnya tidak termasuk dalam golongan kanker paru, tetapi karena letaknya yang sangat dekat dengan paru maka biasanya dibahas dalam kaitannya dengan kanker paru. Namanya Pleural Mesothelioma, kanker yang tumbuh dari sel-sel pleura, lapisan tipis yang membungkus paru-paru. Mesothelioma berasal dari kata mesothelium, jaringan berupa lapisan tipis yang membungkus sebagian besar organ tubuh bagian dalam. Terdiri dari dua lapis, lapis pertama menempel pada organ yang dilindungi, sedangkan lapis kedua membentuk kantung diluar lapis pertama. Mesothelium memproduksi cairan yang mengisi ruang diantara kedua lapisan sebagai pelumas, untuk memudahkan gerakan organ tubuh yang dilapisinya seperti gerak jantung memompa darah, mengembang dan mengkerutnya paru-paru dalam mengambil udara dan mengeluarkannya kembali. Berdasar tempatnya berada, Mesothelium punya beberapa nama. Peritoneum adalah jaringan mesothelial yang membungkus sebagian besar organ di dalam rongga perut. Pleura adalah jaringan Mesothelial yang memisahkan jaringan paru-paru dengan dinding rongga dada. Lapisan Pleura yang menempel pada paru disebut Visceral pleura, sedangkan lapisan diluarnya disebut Parietal pleura. Pericardium membungkus dan melindungi jantung. Jaringan mesothelial yang membungkus alat reproduksi bagian dalam pria disebut Tunica vaginalis testis, sedangkan pada wanita disebut Tunica serosa uteri.
Sel-sel mesothelium yang mengalami mutasi kemudian membelah diri tak terkontrol hingga merusak jaringan di sekitarnya disebut Mesothelioma atau kanker Mesothelium. Sebagian besar kasus mesothelioma berawal dari Pleura dan Peritoneum. Mesothelioma yang berkembang di Pleura disebut Pleural Mesithelioma. Karena Pleural Mesothelioma merupakan sel kanker yang berasal dari sel-sel Mesothelium, maka tidak digolongkan sebagai jenis sel kanker paru. Tetapi karena letaknya yang sangat bedekatan dengan paru-paru, maka Pleural Mesothelioma juga biasa dibahas dalam hubungannya dengan kanker paru.
Mengenal jenis kanker paru

Statusku pada bulan Juni 2007 sebagai suspect lung cancer yang belum terbukti tidak dapat di follow up karena belum jelas jenisnya. Mengenali jenis kanker paru sangat penting, sehubungan dengan upaya pengobatan yang akan dilakukan. Dari tempatnya tumbuh, kanker paru terbagi dalam dua macam.
Kanker primer jika kanker tumbuh dari sel yang ada dalam paru.
Kanker sekunder, jika kanker yang tumbuh di paru merupakan penyebaran dari sel kanker yang berasal dari organ tubuh lain seperti payudara atau usus besar.
Mengetahui asal kanker merupakan hal penting karena jika ternyata kanker yang berkembang dalam paru merupakan penyebaran dari tempat lain misalnya dari usus besar, maka cara pengobatannyapun sebagaimana mengobati kanker usus besar.
Kanker Primer
Dari bentuk anatomisnya, kanker primer yang tumbuh dari sel yang ada dalam paru terbagi dalam dua macam
1. Sel kanker kecil SCLC (Small Cell Lung Cancer)
2. Sel kanker bukan sel kecil NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer)
1. Sel kanker kecil SCLC (Small Cell Lung Cancer).
Meskipun sel kanker kecil menurut statistik hanya terjadi pada 20% dari seluruh penderita kanker paru, tetapi jenis ini termasuk yang paling sulit ditangani karena sifatnya yang sangat mudah menyebar ke organ lain. Dari bentuknya yang menyerupai gandum, sel kanker ini dijuluki sel gandum (Oat cell cancer). Dinamakan sel kecil karena bentuknya yang demikian kecil sehingga terlihat seperti hanya terdiri dari nucleus (inti sel). Kanker paru dari jenis ini biasanya disebabkan oleh kebiasaan merokok. Sangat jarang dijumpai seseorang yang tidak merokok menderita kanker jenis ini. Untuk pengobatannya biasanya dokter menyarankan chemotherapy karena sifatnya yang mudah menyebar (metastasis).
2. Sel kanker bukan sel kecil NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer).
Sel kanker jenis ini terdiri dari tiga macam, yang dijadikan satu kelompok karena mempunyai karakter yang hampir sama, dan dalam merespon obat-obatan berbeda dengan jenis sel kanker kecil (Small Cell Lung Cancer). Ada kalanya sangat sulit bahkan tidak mungkin membedakan ketiga jenis sel kanker ini jika sel belum berkembang sempurna menjadi sel kanker. Sebelum menjadi sel kanker yang ganas, sel yang semula adalah sel normal, mengalami proses sangat rumit, yang biasa disebut mutasi. Ketiga jenis sel kanker ini adalah
a. Sel kanker Squamous (Squamous Cell Carcinoma).
Jenis kanker ini paling sering dijumpai, biasanya ditemukan disekitar pertengahan paru di salah satu cabang bronchus baik kiri maupun kanan. Kanker jenis ini terbentuk dari sel-sel yang ada disepanjang saluran nafas, dan biasanya disebabkan oleh kebiasaan merokok.
b. Adenocarcinoma.
Adenocarcinoma juga berkembang dari sel-sel yang ada disepanjang saluran nafas, tetapi khususnya terbentuk dari sel-sel yang memproduksi dahak (lapisan lendir pada dinding saluran nafas). Biasanya ditemukan di jaringan paling luar paru-paru.
c. Sel Kanker Besar (Large Cell Carcinoma).
Disebut demikian karena bentuknya yang memang kelihatan besar agak bulat. Kanker jenis ini cenderung tumbuh lebih cepat.
Kanker Sekunder.
Ada beberapa jenis kanker paru, yang merupakan penyebaran sel kanker dari organ tubuh yang lain, termasuk kanker payudara dan kanker usus. Cara pengobatan kanker sangat bergantung dari asal mula sel kanker berkembang. Jika misalnya sel kanker berkembang dari sel payudara yang kemudian menyebar ke paru-paru, walaupun kemudian ditemukan dan berkembang di paru-paru, itu bukan sel kanker paru, tetapi sel kanker payudara, yang hanya akan merespon obat-obatan untuk kanker payudara. Demikian pula jika sel kanker bermula dari sel-sel usus yang bermutasi menjadi ganas dan menyebar ke paru-paru.
Kembali pada kasusku, tampaknya Biopsy (pengambilan sampel jaringan) menjadi syarat mutlak untuk mengetahui jenis kanker yang sedang berkembang dalam tubuh, bila nanti ditemukan adanya kanker di paruku, perjalanan akan masih sangat panjang, karena harus ada evaluasi ke seluruh tubuh, untuk menentukan apakah kanker yang ditemukan memang kanker paru atau kanker yang menyebar dari tempat lain.
(artikel disadur dari www.cancerhelp.org.uk)
Memilih prosedur biopsy
April 2007 Nyeri di dada kiriku terasa semakin menyengat. Mungkin aku mulai kebal terhadap obat penahan nyeri yang selama ini kuminum. Ketika ada kesempatan, aku kembali ke dokter Andi Nurjihad, spesialis paru yang pernah merawatku dulu, juga yang selama ini memberi obat penawar nyeri. Kukeluhkan tentang meningkatnya rasa nyeri di dadaku. Dokter membenarkan bahwa meningkatnya rasa nyeri bisa saja karena aku mulai kebal terhadap “Tramal” (Tramadol hydrochloride), tetapi lebih penting mencari penyebab nyeri daripada mencari obat pengganti. Ketika kuceritakan tentang tidak ditemukannya sel ganas pada pemeriksaan TBLB, dokter memaparkan beberapa fakta.
1. Sebelum ditemukannya jaringan liar di paru kiriku, aku adalah perokok. Menurut statistik 80% dari penderita kanker paru, ada hubungannya dengan rokok. Secara umum, 15% dari perokok punya resiko untuk mengidap kanker paru.
2. Dari hasil Rontgent maupun CT Scan, terlihat adanya jaringan liar yang tumbuh di paru kiriku. Walaupun belum diketahui jenisnya, tetapi jelas jaringan itulah yang menimbulkan rasa nyeri, karena tidak ditemukan hal lain yang mungkin dapat menyebabkan rasa nyeri.
3. Walaupun masih dalam penyelidikan, ada indikasi bahwa kanker ada hubungannya dengan faktor keturunan. Sedangkan Ibuku almarhum juga menderita kanker paru Adenocarsinoma
Dalam kaitannya dengan keturunan ini, aku dapat menerima penjelasan bahwa kanker bisa menurun secara genetis. Sel kanker adalah sel tubuh kita juga yang mengalami mutasi sehingga jadi tak terkendali. Mungkin pada orang-orang tertentu jika terpapar oleh karsinogen sel-sel tubuhnya mudah bermutasi, sedangkan pada orang lain tidak. Sifat sel tubuh yang mudah bermutasi inilah yang mungkin merupakan sifat yang diturunkan dari orang tua kita, sebagaimana warna kulit, bentuk tubuh dan sebagainya.
Kembali pada kasusku, jika dengan TBLB tidak ditemukan sel ganas, maka tidak seharusnya aku berhenti berusaha cari tahu tentang apa yang sedang terjadi di paruku. Aku bergidik, karena biopsy yang ditawarkan tinggal dengan cara
1. TTLB (Trans Thoracal Lung Biopsy) atau
2. operasi (biopsy terbuka).
Keduanya sama sekali tidak kusenangi. TTLB atau Fine needle aspiration biopsy dilakukan dengan cara menancapkan jarum di dada hingga mencapai jaringan yang dicurigai. Sedangkan biopsy terbuka dilakukan dalam suatu operasi melalui sayatan di dada. Sejumlah jaringan diambil untuk dipelajari ahli Pathology yang dihadirkan diruang operasi. Jika hasilnya ditemukan sel ganas, operasi dilanjutkan dengan pengangkatan. Aku memilih cara TTLB yang sepertinya lebih sederhana. Setelah kami berembug memilih waktu yang tepat untuk pelaksanaannya, aku pulang dengan membawa obat penahan nyeri dengan dosis lebih tinggi. Malam itu tidurku pulas sekali.
Trans Bronchial Lung Biopsy vs Trans Thoracal Lung Biopsy
Tidak ditemukannya sel kanker paru pada proses TBLB (Trans Bronchial Lung Biopsy) di
bulan Januari 2007 membuatku terpuruk dalam kebimbangan lagi. Di awal tahun 2006 dulu
aku pernah dihadapkan pada masalah yang sama. Waktu itu karena tes Mantoux menunjukkan reaksi positif maka aku ditetapkan sebagai penderita TBC. Sedangkan hasil CT Scan memperlihatkan adanya jaringan abnormal berdiameter kurang dari 3 cm yang ada di paru kiri. Kesalahan diagnosa seperti itu bisa terjadi, karena yang tampak seperti jaringan abnormal pada CT scan bisa saja merupakan jaringan parut akibat penyakit paru kronis seperti TBC, Bronchitis, dan penyakit infeksi paru lainnya. Pemeriksaanpun berlanjut berlarut-larut hingga membuatku semakin bingung. Walau cytologi report menyatakan tidak ditemukan sel ganas, aku masih ragu akan hasil TBLB yang lalu. TBLB dikenal luas sebagai “the Golden Standard” dalam menegakkan diagnosis penyakit paru, tetapi itu sebatas jika kelainan yang ada dalam paru bisa di jangkau dan diambil sampelnya untuk di pelajari lebih lanjut. Sedangkan pada kasusku, jaringan yang dicurigai tidak terjangkau oleh Bronchoscope sehingga biopsy dilakukan dengan cara bilasan, yang menurutku punya beberapa kelemahan (posting tertanggal 8 April dibawah judul Petanda Tumor). Untuk sementara sejak Januari 2007 aku hanya perlu kontrol tiap bulan. Jaringan liar yang ada di paru kiriku di pantau perkembangannya melalui rontgent. Aku mulai berpikir untuk mencoba cara lain yang sama sekali tak kusukai, Trans Thoracal Lung Biopsy (TTLB). Pengambilan sampel jaringan melalui dada, dengan cara menusukkan jarum hingga mencapai jaringan yang dicurigai, di sedot untuk dipelajari di laboratorium. Karena biopsy ini menggunakan jarum, maka bisa juga disebut Fine Needle Aspiration Biopsy. Prosedur TBLB dan TTLB masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. TBLB efektif jika jaringan kanker berada ditempat yang dapat dijangkau bronchoscope. Karena saluran nafas semakin jauh kedalam semakin kecil, maka pada suatu ketika bronchoscope tidak bisa masuk lebih dalam lagi. Tetapi TBLB mempunyai kelebihan dalam hal mendeteksi adanya kanker atau penyebarannya pada saluran nafas yang dapat dilalui bronchoscope. Bisa saja terjadi, kanker pada tingkat awal, gambarnya tidak tertangkap oleh rontgent, tetapi dapat dilihat dengan bronchoscope melalui kamera yang terpasang diujungnya. TTLB mempunyai kelebihan dapat menjangkau jaringan kanker dimanapun berada, karena dilakukan dengan cara menusukkan jarum langsung ke jaringan yang mencurigakan. Dengan panduan CT scan, jarum bisa diarahkan menuju jaringan abnormal. Kelemahannya adalah jika jaringan kanker berada pada tahap dini, berukuran kurang dari 1cm, maka ada kemungkinan jarum meleset. Tidak seperti pada TBLB yang dapat melihat langsung kedalam paru-paru melalui kamera, TTLB mengandalkan image CT Scan yang perlu keahlian khusus untuk mengoperasikannya. Kelemahan lain yang walaupun sangat jarang terjadi adalah kemungkinan terjadinya pneumothorax, masuknya udara atau cairan tubuh kedalam lapisan Pleura sehingga membuat pasien susah bernafas karena paru-paru terdesak. Penggunaan jarum juga meninggalkan luka yang walapun sangat kecil bisa berakibat pendarahan atau bahkan infeksi. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa sel kanker mungkin dapat menyebar melalui luka yang ditinggalkan oleh bekas tusukan jarum. Tentang kemungkinan terakhir ini pernah kubahas dengan dokter ahli paru yang lain. Beliau tidak menyangkal pendapat itu, tetapi untuk menyebar, sel kanker akan lebih mudah melalui peredaran darah dimana tersedia lebih banyak makanan untuknya dibanding jika menyebar melalui bekas luka. Apalagi luka sekecil apapun, akan segera tertutup oleh darah yang mengering, sehingga memutus jalur makanan bagi sel kanker yang mungkin terbawa oleh jarum dan secara tak sengaja tertinggal di sepanjang luka yang ditinggalkannya. Tampaknya tanpa menyangkal, dengan penjelasannya itu pak Dokter ingin mengatakan bahwa kemungkinan itu hampir mustahil.
Positron Emission Tomography Scan
Termangu aku memikirkan penyakitku. Hasil bronchoscopy yang menyatakan tidak ditemukannya sel ganas membuatku senang (posting tertanggal 31 Maret dibawah judul Cytologi report), tetapi juga bingung. Sementara dari test CEA (Carcinoembryonic Antigen) yang pernah kujalani jelas adanya jejak kanker, kenapa pada pelacakan dengan alat yang dapat menjangkau langsung ke jaringan yang dicurigai sebagai kanker paru justru jejak itu tidak ditemukan.CEA digunakan sebagai petanda tumor, karena umumnya seseorang yang mengidap tumor kadar CEA nya meningkat. Tetapi kadar CEA yang tinggi tidak selalu karena seseorang mengidap tumor atau kanker. Beberapa penyakit lain dapat juga mengakibatkan naiknya kadar CEA. Bahkan seorang perokok (aku dulu juga perokok) kadar CEA nya cenderung lebih tinggi dibanding bukan perokok. Walaupun belum memenuhi kriteria sebagai petanda tumor (tumor marker) yang ideal, CEA masih diterapkan karena biayanya yang relatif murah dan prosedurnya mudah. Sedangkan Bronchoscopy yang pernah kujalani beberapa hari yang lalu terpaksa dilakukan dengan teknik bilasan, karena jaringan yang dicurigai sebagai kanker paru tidak dapat dijangkau oleh bronchoscope. Dalam metoda bilasan ini, sejumlah cairan disemprotkan kearah jaringan yang dicurigai, kemudian ditampung dan dipelajari di laboratorium. Cara ini punya beberapa kelemahan. Jika cairan yang disemprotkan ternyata tidak mengarah pada jaringan kanker, karena percabangan saluran nafas yang begitu banyak, maka hasilnyapun negatif. Seandainya arahnya benar tetapi ternyata tidak terjangkau karena letaknya yang terlalu dalam, atau jika walaupun terjangkau tetapi tidak ada sel kanker yang kebetulan larut terbawa oleh cairan saline (air garam) yang disemprotkan maka hasilnyapun negatif. Sebetulnya ada alat yang lebih canggih untuk mendeteksi sel kanker, merupakan pengembangan kedokteran nuklir disebut PET Scan(Positron Emission Tomography). Berbeda dengan alat pencitraan terdahulu seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging) atau CT Scan (Computed Tomography) yang dipakai memeriksa kelainan bentuk organ, PET Scan dipakai untuk pencitraan kelainan fungsi metabolisme, dalam hal ini adalah metabolisme sel-sel kanker. Sel kanker mengkonsumsi gula (glucosa) lebih banyak dari pada sel normal, maka untuk melacak adanya sel kanker adalah dengan cara mendeteksi dimana terdapat metabolisme (proses makan) gula secara berlebihan. Agar dapat dimonitor dari luar tubuh, gula diberi muatan radioisotop (zat yang dapat memancarkan sinyal radioaktif) kemudian diinjeksikan kepada pasien. Dengan kamera khusus yang dirancang untuk dapat menangkap sinyal radioaktif, tempat dimana terdapat konsentrasi gula yang tinggi dapat dilacak, berupa bercak-bercak hitam, tempat sel-sel kanker berada. PET Scan dapat melacak dimanapun sel kanker berada. Sayangnya pemakaian alat ini biayanya sangat tinggi, dan aku dengar baru masuk ke Indonesia pada akhir tahun 2008 di salah satu Rumah Sakit di kawasan Pluit. Sedangkan ceritaku ini adalah kilas balik saat penelusuran penyakitku pada tahun 2005 hingga 2007.
Kanker Paru
Saya mulai mengenal rokok pada usia yang relatif muda. Awalnya hanya ingin mencoba, ketika usia saya menginjak 15 tahun, kemudian menjadi kebiasaan, terutama ketika duduk di bangku SMA. Hampir semua teman sebaya menghisap rokok, dan dari mereka pulalah saya mendapatkan jatah saya, karena waktu itu orang tua melarang keras. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga suatu saat pada pemeriksaan kesehatan (general check up) tahun 2005 yang diselenggarakan oleh perusahaan dimana saya bekerja, pada paru kiri atas ditemukan kabut tipis. Saat itupun saya tercekat, karena beberapa tahun sebelumnya Ibu saya meninggal karena kanker paru. Saya pernah mendengar bahwa kanker mungkin secara genetis dapat menurun, walau masih dalam penyelidikan. Pada saat itu segera saya bawa hasil pemeriksaan tsb ke dokter untuk mendapat penjelasan lebih lanjut. Lega rasanya karena menurut dokter yang memeriksa saat itu, terlalu dini untuk menetapkan bahwa itu adalah kanker. Terlebih lagi saat itu memang tidak ada gejala yang mencurigakan, seperti sesak nafas, rasa nyeri, atau batuk berdarah. Sayapun meneruskan kebiasaan merokok karena merasa aman
Paruku Terjangkit Kanker
Cerita tentang kanker di paruku kubuat agar orang lain tidak mengalaminya. Karena kisahku terjadi dalam rentang waktu yang cukup panjang, antara tahun 2005 hingga sekarang, maka cerita kususun secara serial, tahap demi tahap. Beberapa gambar, keterangan bahkan opini kutambahkan dari banyak situs untuk sekedar menjelaskan situasi yang kuhadapi saat itu. Aku berharap agar tulisan inipun berguna bagi siapapun yang ingin tahu sedikit cerita tentang kanker dan bagaimana dunia kedokteran menanganinya.
Halo dunia!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
Tinggalkan sebuah Komentar


