Arsip untuk Juni, 2009|Halaman arsip bulanan
Penanganan Kanker stadium IV – Pengobatan atau perawatan ?
Agak kecut aku menerima kunjungan 2 orang dokter sekaligus dari anggota team dokter yang merawatku, untuk membicarakan rencana pengobatanku. Dari hasil browsing tentang kanker paru, sedikit banyak aku tahu bahwa untuk kanker pada stadium IV bukan lagi pengobatan, tetapi cenderung ke perawatan. Pemahamanku yang awam menangkap perbedaan yang jelas antara pengobatan dan perawatan. Walaupun dalam kenyataannya keduanya sama-sama memberi obat, tetapi jika pada pengobatan ditujukan untuk kesembuhan, sedangkan perawatan hanya mengatasi gejala yang timbul. Dalam penjelasan yang singkat, dokter tidak menyangkal pendapatku, tetapi juga tidak membenarkannya. Menurut pengalamannya, walaupun alur penanganan kesehatan sudah baku dan jelas, dunia medis tidak selalu hitam putih sebagaimana text book. Banyak hal bisa terjadi diluar perkiraan semula. Oleh karenanya pengalaman adalah pelajaran sepanjang waktu.
Penetapan stadium
Bone scan yang kujalani pada 14 Agustus 2007 melengkapi semua pemeriksaan kanker paru yang kuidap. Dengan ditemukannya “kegiatan” pada tulang rusukku, dapat disimpulkan bahwa penyebaran kanker paru sudah merambah ke tulang rusuk nomor 8 dan 9. Ditemukannya penyebaran pada tulang rusuk ini juga mendaulat stadium kanker sudah pada tingkat IV, dimana kanker sudah menyebar ke organ lain selain paru-paru. Namun demikian dokter yang mengunjungiku di ruang rawat masih ingin konsultasi dengan sejawatnya di kedokteran nuklir yang memeriksaku, apakah kegiatan pada tulang rusuk ini benar-benar metastase (penyebaran) atau hanya gambaran yang salah akibat dari adanya tumor ganas yang ada di paru-paruku. Entah bagaimana jalannya diskusi, yang kutahu kemudian aku mendapat kabar bahwa team dokter menetapkan stadiumku pada tingkat IV, karena tulang rusuk ke 8 dan 9 letaknya cukup jauh dari tumor primer yang berada di puncak paru kiri. Dokter menyimpulkan bahwa bayangan kegiatan di tulang rusuk yang tertangkap saat bone scan bukan karena interference tumor primer. Statusku kini menjadi T1N0M1 (baca juga posting dibawah judul Melacak jejak kanker). Pupuslah sudah harapanku untuk operasi pengangkatan tumor ganas di paruku, karena kanker pada stadium IV tidak akan dilakukan tindakan operasi.
An Unsolved Problem: Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
Sedikit menyimpang dari kanker, tulisan dr Kathryn yang sekarang sedang study spesialisasi di Jepang ini ku kutip dari blognya http://charmedkath.blogspot.com/, setelah keponakanku tersayang Falaq Raynanda meninggal dalam waktu singkat karena DBD pada usianya yang ke 14. Mudah-mudahan menjadi pelajaran yang baik untuk kita semua. Terima kasih dok.
An Unsolved Problem: Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
Demam berdarah dengue atau sering disingkat DBD bukan penyakit baru, terlebih di negara kita tercinta, DBD sudah menjadi penyakit yang sangat popular. Kita juga bahkan mengenal ada musim demam berdarah dan saat itu biasanya RS penuh dengan pasien demam berdarah sampai sampai kamar perawatan pun tidak cukup menampung jumlah pasien yang masuk. Meski terasa sudah begitu akrab mengenal penyakit ini, ternyata kita (termasuk dokter sekalipun) masih sering kecolongan dalam mengatasinya. Masih banyak keluarga yang harus berduka cita karena kehilangan sanak saudaranya akibat demam berdarah. “Know your enemy and know yourself and you can fight a thousand battles without disaster” (Sun Tzu – The Art of War). Dalam artikel kali ini yuk kita lihat, kita kenal lagi musuh kita si DBD ini. Semoga kita akan bisa memenangkan pertempuran melawannya.
Pertama kita harus mengenal baik dulu demam berdarah. Demam berdarah merupakan penyakit yang banyak dan umum terdapat di negara tropis, seperti Brazil, Pakistan, India, Thailand, Vietnam, Malaysia dsb, termasuk Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue, yang ditularkan ke manusia melalui nyamuk Aedes aegypty atau Aedes albopictus. Demam berdarah banyak terdapat di negara tropis karena nyamuk perantaranya tersebut membutuhkan iklim yang hangat untuk berkembang biak.
Virus Dengue sendiri terdiri dari 4 strain, DEN1, DEN2, DEN3 dan DEN4, yang meski mirip tapi berbeda satu sama lain. Seseorang yang sudah terkena satu jenis strain, bisa terkena demam berdarah lagi dari strain yang lainnya dan bahkan bisa menjadi lebih fatal. Kenapa? karena sifat strain virus Dengue ini yang ‘sama tapi beda’. Jadi, jika terkena strain virus DEN1 misalnya, biasanya pasien akan membaik dan tubuh akan membentuk antibody yang mengenali DEN1 tersebut. Lalu, terkena lagi dari strain yang lain, DEN2 misalnya, nah sistem kekebalan tubuh bisa salah mengenali dan mengira kalau yang menyerang ini virus DEN1. Akibatnya, meski antibody tubuh berkumpul menghadang si virus, mereka gagal men-stop infeksi dari DEN2 tersebut dan malah memicu terjadinya suatu reaksi tubuh yang dikenal dengan nama ‘Antibody-Dependent Enhancement (ADE)’. Disini si virus Dengue yang tidak mati tersebut malah memanfaatkan antibody tubuh kita untuk ber-replikasi memperbanyak dirinya sendiri dan akibatnya infeksi kedua ini bisa lebih parah dari infeksi pertama, dan berakibat fatal.
Meski semua strain virus Dengue berpotensi fatal, terutama jika sebelumnya sudah pernah terkena serangan virus dari strain yang berbeda, ada kecenderungan virus DEN2 dan DEN3 untuk lebih berpotensi fatal dibandingkan virus DEN1 dan DEN4. Kemungkinan karena produksi virus DEN2 dan DEN3 lebih cepat dan lebih banyak sehingga serangan pun lebih berat.
Lessons learned: Seseorang bisa terkena demam berdarah lebih dari satu kali sepanjang hidupnya. Harus lebih waspada dan berhati hati dalam menangani kasus demam berdarah yang sudah berulang karena lebih beresiko ketimbang serangan pertama.
Demam berdarah tidak menular langsung dari manusia ke manusia melainkan melalui nyamuk sebagai perantaranya. Jadi setelah mengenal virus Dengue, sekarang kita coba mengenal nyamuk Aedes aegypty dan Aedes albopictus sebagai vektor perantara penularan virus Dengue ini ke manusia. Kedua jenis nyamuk ini memiliki ciri khas: warna belang putih di kakinya (lihat foto).
Umumnya yang menggigit manusia adalah nyamuk betina, karena membutuhkan darah untuk perkembangan telur telurnya. Karena daya terbang mereka yang rendah, hanya sekitar 100-200 meter, tentu saja mereka akan tinggal tidak jauh dari mangsanya, di daerah pemukiman penduduk. Mereka akan meletakkan telur telurnya di air yang tergenang (tidak mengalir) dan biasanya air yang cukup bersih, yang justru juga banyak di rumah rumah penduduk. Selain itu umumnya mereka juga aktif mencari makan (menggigit) sesuai jam kerja manusia, pagi sampai sore hari. Aedes aegypty umumnya menggigit pada pagi hari dan menjelang sore saat matahari terbenam, sedangkan Aedes albopictus biasanya pada siang hari.
Di Indonesia, ada kebiasaan punya ‘jam tidur siang atau tidur sore’, anak anak setelah pulang sekolah juga biasanya tidur siang/sore dulu sebelum beraktivitas lagi sore/malam harinya. Ini sasaran empuk dari si nyamuk nyamuk yang sedang giat giatnya mencari makan itu. Apalagi kalau pas siang udara terasa panas, tidur dengan jendela dibuka dan membiarkan angin berhembus masuk. Celakanya, tidak hanya angin, nyamuk pun berpesta pora jadi tamu tak diundang.
Lessons learned: Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Perhatikan dan kenali keadaan rumah dimana ada kemungkinan air bersih tergenang (air di vas bunga, air tempayan, air bak mandi, dsb). Jalankan program 3M (Mengubur, Menutup, Menguras) untuk memutus mata rantai perkembang biakan nyamuk. Jika ada tempat yang tidak bisa dilakukan program 3M tersebut, bisa saja ditaruh ikan sebagai predator dari larva nyamuk atau tambahkan bubuk insektisida Abate sesuai petunjuk penggunaan. Jangan lupa, berusaha tidak menjadi santapan nyamuk. Pakai kelambu jika tidur, atau lotion anti nyamuk. Tidak kalah penting, usahakan selalu menjaga kesehatan tubuh agar kuat melawan si virus Dengue ini.
Setelah mengenali virus dan nyamuk sebagai perantara penularan demam berdarah, sekarang kita coba kenali gejala demam berdarah dan apa yang penting harus diperhatikan dalam penanganan demam berdarah.
Setelah nyamuk yang membawa virus Dengue menggigit manusia, virus akan masuk ke dalam tubuh manusia dan berinkubasi di dalamnya. Gejala demam berdarah biasanya baru tampak setelah 4-7 hari kemudian. Terutama pada saat musim demam berdarah, jika ada gejala klinis seperti di bawah ini, sebaiknya diwaspadai kemungkinan demam berdarah.
- demam mendadak. Pada demam berdarah, dikenal pola demam pelana kuda (demam beberapa hari naik lalu turun, dan naik kembali sehingga menyerupai bentuk pelana kuda)
- sakit kepala, badan dan sendi terasa pegal linu
- perut tidak enak, ada rasa mual dan muntah
- perdarahan (paling dini, jika terdapat bercak perdarahan di kulit). Pada pasien yang dicurigai demam berdarah, bisa dilakukan tes Rumple-Leed (atau dikenal juga dengan sebutan tes Tourniquet) untuk melihat adanya manifestasi perdarahan kapiler kulit. Perdarahan yang berlanjut, gusi berdarah, mimisan, perdarahan usus, dsb bisa membawa pasien ke kondisi kritis yang dikenal dengan istilah ‘Dengue Shock Syndrome (DSS)’
- pemeriksaan laboratorium yang menunjang dugaan demam berdarah: turunnya trombosit (sel darah yang berperan untuk pembekuan darah) dan naiknya hematokrit (penunjuk kekentalan darah). Ada pula tes tambahan untuk memastikan jenis strain virus yang menyerang.
Infeksi virus Dengue dalam tubuh dapat menyebabkan naiknya permeabilitas pembuluh darah yang akan menyebabkan cairan plasma tubuh merembes keluar pembuluh darah. Inilah yang menyebabkan kekentalan darah (yang ditunjukkan oleh kadar hematokrit) meningkat dan pasien akan mengalami dehidrasi. Selain itu pembuluh darah juga menjadi rapuh dan mudah rusak, sehingga mudah terjadi perdarahan. Celakanya, virus ini juga bisa memicu suatu mekanisme dalam tubuh yang dikenal sebagai ‘Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)’ dan menyebabkan faktor pembekuan darah, trombosit berkurang (trombocytopenia). Jika hal ini luput dan tidak cepat ditangani, tentu berakibat fatal.
Satu lagi yang juga harus diwaspadai, proses memburuknya penyakit demam berdarah (berkembang ke arah dengue syok syndrome/DSS) sering justru terjadi pada hari ke- 3 sampai ke-5 sesudah demam. Saat itu kadang demam pasien juga sudah turun sehingga mengira kondisi pasien membaik, padahal sebaliknya, inilah saat yang harus diwaspadai. Keluhan seperti sakit perut, muntah, perdarahan di mana saja (kulit, mimisan, BAB tinja hitam, dsb) harus diwaspadai dan ditindaklanjuti.
Lessons learned: Pasien demam berdarah rentan terhadap resiko dehidrasi. Penting sekali untuk memantau dan menjaga asupan cairan tubuh. Perbanyak minum, jus jambu dan POCARI sweat boleh diminum karena mengandung elektrolit yang kebetulan juga cocok dengan elektrolit cairan tubuh. Untuk menurunkan panas, boleh meminum obat anti panas Paracetamol. Tapi, JANGAN aspirin atau ibuprofen karena keduanya meningkatkan resiko perdarahan!. Aspirin mempunyai efek mencegah pembekuan darah, sementara pada kasus demam berdarah justru kebalikannya, kita ingin terjadi pembekuan darah untuk mencegah perdarahan organ tubuh. Sekali lagi berhati hatilah dalam meminum obat dan segera ke dokter jika mencurigai ada anggota keluarga yang terkena demam berdarah. Do not underestimate the illness!
Demikian cerita saya tentang demam berdarah dengue ini. Semoga membuat kita semakin lebih mengenal musuh kita dan lebih mudah untuk melawannya.
Salam sehat,
Kathryn-Tokyo
“I dedicate this article to one of my friend followers who lost his 14-year-old nephew due to DHF”
References:
- http://www.stanford.edu/group/virus/flavi/2000/dengue.htm
- http://en.wikipedia.org/wiki/Antibody_dependent_enhancement
- http://www.cdc.gov/ncidod/dvbid/dengue/slideset/set1/index.htm
- http://www.searo.who.int/en/Section10/Section332.htm
- Sumber ilustrasi: http://www.koalisi.org/dokumen/dokumen2171.jpg
An Unsolved Problem: Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
Demam berdarah dengue atau sering disingkat DBD bukan penyakit baru, terlebih di negara kita tercinta, DBD sudah menjadi penyakit yang sangat popular. Kita juga bahkan mengenal ada musim demam berdarah dan saat itu biasanya RS penuh dengan pasien demam berdarah sampai sampai kamar perawatan pun tidak cukup menampung jumlah pasien yang masuk. Meski terasa sudah begitu akrab mengenal penyakit ini, ternyata kita (termasuk dokter sekalipun) masih sering kecolongan dalam mengatasinya. Masih banyak keluarga yang harus berduka cita karena kehilangan sanak saudaranya akibat demam berdarah. “Know your enemy and know yourself and you can fight a thousand battles without disaster” (Sun Tzu – The Art of War). Dalam artikel kali ini yuk kita lihat, kita kenal lagi musuh kita si DBD ini. Semoga kita akan bisa memenangkan pertempuran melawannya.
Pertama kita harus mengenal baik dulu demam berdarah. Demam berdarah merupakan penyakit yang banyak dan umum terdapat di negara tropis, seperti Brazil, Pakistan, India, Thailand, Vietnam, Malaysia dsb, termasuk Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue, yang ditularkan ke manusia melalui nyamuk Aedes aegypty atau Aedes albopictus. Demam berdarah banyak terdapat di negara tropis karena nyamuk perantaranya tersebut membutuhkan iklim yang hangat untuk berkembang biak.
Virus Dengue sendiri terdiri dari 4 strain, DEN1, DEN2, DEN3 dan DEN4, yang meski mirip tapi berbeda satu sama lain. Seseorang yang sudah terkena satu jenis strain, bisa terkena demam berdarah lagi dari strain yang lainnya dan bahkan bisa menjadi lebih fatal. Kenapa? karena sifat strain virus Dengue ini yang ‘sama tapi beda’. Jadi, jika terkena strain virus DEN1 misalnya, biasanya pasien akan membaik dan tubuh akan membentuk antibody yang mengenali DEN1 tersebut. Lalu, terkena lagi dari strain yang lain, DEN2 misalnya, nah sistem kekebalan tubuh bisa salah mengenali dan mengira kalau yang menyerang ini virus DEN1. Akibatnya, meski antibody tubuh berkumpul menghadang si virus, mereka gagal men-stop infeksi dari DEN2 tersebut dan malah memicu terjadinya suatu reaksi tubuh yang dikenal dengan nama ‘Antibody-Dependent Enhancement (ADE)’. Disini si virus Dengue yang tidak mati tersebut malah memanfaatkan antibody tubuh kita untuk ber-replikasi memperbanyak dirinya sendiri dan akibatnya infeksi kedua ini bisa lebih parah dari infeksi pertama, dan berakibat fatal.
Meski semua strain virus Dengue berpotensi fatal, terutama jika sebelumnya sudah pernah terkena serangan virus dari strain yang berbeda, ada kecenderungan virus DEN2 dan DEN3 untuk lebih berpotensi fatal dibandingkan virus DEN1 dan DEN4. Kemungkinan karena produksi virus DEN2 dan DEN3 lebih cepat dan lebih banyak sehingga serangan pun lebih berat.
Lessons learned: Seseorang bisa terkena demam berdarah lebih dari satu kali sepanjang hidupnya. Harus lebih waspada dan berhati hati dalam menangani kasus demam berdarah yang sudah berulang karena lebih beresiko ketimbang serangan pertama.
Demam berdarah tidak menular langsung dari manusia ke manusia melainkan melalui nyamuk sebagai perantaranya. Jadi setelah mengenal virus Dengue, sekarang kita coba mengenal nyamuk Aedes aegypty dan Aedes albopictus sebagai vektor perantara penularan virus Dengue ini ke manusia. Kedua jenis nyamuk ini memiliki ciri khas: warna belang putih di kakinya (lihat foto).

(Aedes albopictus)
(Aedes aegypty)
Umumnya yang menggigit manusia adalah nyamuk betina, karena membutuhkan darah untuk perkembangan telur telurnya. Karena daya terbang mereka yang rendah, hanya sekitar 100-200 meter, tentu saja mereka akan tinggal tidak jauh dari mangsanya, di daerah pemukiman penduduk. Mereka akan meletakkan telur telurnya di air yang tergenang (tidak mengalir) dan biasanya air yang cukup bersih, yang justru juga banyak di rumah rumah penduduk. Selain itu umumnya mereka juga aktif mencari makan (menggigit) sesuai jam kerja manusia, pagi sampai sore hari. Aedes aegypty umumnya menggigit pada pagi hari dan menjelang sore saat matahari terbenam, sedangkan Aedes albopictus biasanya pada siang hari.
Di Indonesia, ada kebiasaan punya ‘jam tidur siang atau tidur sore’, anak anak setelah pulang sekolah juga biasanya tidur siang/sore dulu sebelum beraktivitas lagi sore/malam harinya. Ini sasaran empuk dari si nyamuk nyamuk yang sedang giat giatnya mencari makan itu. Apalagi kalau pas siang udara terasa panas, tidur dengan jendela dibuka dan membiarkan angin berhembus masuk. Celakanya, tidak hanya angin, nyamuk pun berpesta pora jadi tamu tak diundang.
Lessons learned: Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Perhatikan dan kenali keadaan rumah dimana ada kemungkinan air bersih tergenang (air di vas bunga, air tempayan, air bak mandi, dsb). Jalankan program 3M (Mengubur, Menutup, Menguras) untuk memutus mata rantai perkembang biakan nyamuk. Jika ada tempat yang tidak bisa dilakukan program 3M tersebut, bisa saja ditaruh ikan sebagai predator dari larva nyamuk atau tambahkan bubuk insektisida Abate sesuai petunjuk penggunaan. Jangan lupa, berusaha tidak menjadi santapan nyamuk. Pakai kelambu jika tidur, atau lotion anti nyamuk. Tidak kalah penting, usahakan selalu menjaga kesehatan tubuh agar kuat melawan si virus Dengue ini.
Setelah mengenali virus dan nyamuk sebagai perantara penularan demam berdarah, sekarang kita coba kenali gejala demam berdarah dan apa yang penting harus diperhatikan dalam penanganan demam berdarah.
Setelah nyamuk yang membawa virus Dengue menggigit manusia, virus akan masuk ke dalam tubuh manusia dan berinkubasi di dalamnya. Gejala demam berdarah biasanya baru tampak setelah 4-7 hari kemudian. Terutama pada saat musim demam berdarah, jika ada gejala klinis seperti di bawah ini, sebaiknya diwaspadai kemungkinan demam berdarah.
- demam mendadak. Pada demam berdarah, dikenal pola demam pelana kuda (demam beberapa hari naik lalu turun, dan naik kembali sehingga menyerupai bentuk pelana kuda)
- sakit kepala, badan dan sendi terasa pegal linu
- perut tidak enak, ada rasa mual dan muntah
- perdarahan (paling dini, jika terdapat bercak perdarahan di kulit). Pada pasien yang dicurigai demam berdarah, bisa dilakukan tes Rumple-Leed (atau dikenal juga dengan sebutan tes Tourniquet) untuk melihat adanya manifestasi perdarahan kapiler kulit. Perdarahan yang berlanjut, gusi berdarah, mimisan, perdarahan usus, dsb bisa membawa pasien ke kondisi kritis yang dikenal dengan istilah ‘Dengue Shock Syndrome (DSS)’
- pemeriksaan laboratorium yang menunjang dugaan demam berdarah: turunnya trombosit (sel darah yang berperan untuk pembekuan darah) dan naiknya hematokrit (penunjuk kekentalan darah). Ada pula tes tambahan untuk memastikan jenis strain virus yang menyerang.
Infeksi virus Dengue dalam tubuh dapat menyebabkan naiknya permeabilitas pembuluh darah yang akan menyebabkan cairan plasma tubuh merembes keluar pembuluh darah. Inilah yang menyebabkan kekentalan darah (yang ditunjukkan oleh kadar hematokrit) meningkat dan pasien akan mengalami dehidrasi. Selain itu pembuluh darah juga menjadi rapuh dan mudah rusak, sehingga mudah terjadi perdarahan. Celakanya, virus ini juga bisa memicu suatu mekanisme dalam tubuh yang dikenal sebagai ‘Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)’ dan menyebabkan faktor pembekuan darah, trombosit berkurang (trombocytopenia). Jika hal ini luput dan tidak cepat ditangani, tentu berakibat fatal.
Satu lagi yang juga harus diwaspadai, proses memburuknya penyakit demam berdarah (berkembang ke arah dengue syok syndrome/DSS) sering justru terjadi pada hari ke- 3 sampai ke-5 sesudah demam. Saat itu kadang demam pasien juga sudah turun sehingga mengira kondisi pasien membaik, padahal sebaliknya, inilah saat yang harus diwaspadai. Keluhan seperti sakit perut, muntah, perdarahan di mana saja (kulit, mimisan, BAB tinja hitam, dsb) harus diwaspadai dan ditindaklanjuti.
Lessons learned: Pasien demam berdarah rentan terhadap resiko dehidrasi. Penting sekali untuk memantau dan menjaga asupan cairan tubuh. Perbanyak minum, jus jambu dan POCARI sweat boleh diminum karena mengandung elektrolit yang kebetulan juga cocok dengan elektrolit cairan tubuh. Untuk menurunkan panas, boleh meminum obat anti panas Paracetamol. Tapi, JANGAN aspirin atau ibuprofen karena keduanya meningkatkan resiko perdarahan!. Aspirin mempunyai efek mencegah pembekuan darah, sementara pada kasus demam berdarah justru kebalikannya, kita ingin terjadi pembekuan darah untuk mencegah perdarahan organ tubuh. Sekali lagi berhati hatilah dalam meminum obat dan segera ke dokter jika mencurigai ada anggota keluarga yang terkena demam berdarah. Do not underestimate the illness!
Demikian cerita saya tentang demam berdarah dengue ini. Semoga membuat kita semakin lebih mengenal musuh kita dan lebih mudah untuk melawannya.
Salam sehat,
Kathryn-Tokyo
“I dedicate this article to one of my friend followers who lost his 14-year-old nephew due to DHF”
References:
- http://www.stanford.edu/group/virus/flavi/2000/dengue.htm
- http://en.wikipedia.org/wiki/Antibody_dependent_enhancement
- http://www.cdc.gov/ncidod/dvbid/dengue/slideset/set1/index.htm
- http://www.searo.who.int/en/Section10/Section332.htm
- Sumber ilustrasi: http://www.koalisi.org/dokumen/dokumen2171.jpgSedikit menyimpang dari kanker, tulisan dr Kathryn yang sekarang sedang study spesialisasi di Jepang tentang Demam Berdarah Dengue ini ku kutip dari blognya http://charmedkath.blogspot.com/, setelah keponakanku tersayang Falaq Raynanda meninggal dalam waktu singkat karena DBD pada usianya yang ke 14. Mudah-mudahan menjadi pelajaran yang baik untuk kita semua. Terima kasih dok.
An Unsolved Problem: Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
Demam berdarah dengue atau sering disingkat DBD bukan penyakit baru, terlebih di negara kita tercinta, DBD sudah menjadi penyakit yang sangat popular. Kita juga bahkan mengenal ada musim demam berdarah dan saat itu biasanya RS penuh dengan pasien demam berdarah sampai sampai kamar perawatan pun tidak cukup menampung jumlah pasien yang masuk. Meski terasa sudah begitu akrab mengenal penyakit ini, ternyata kita (termasuk dokter sekalipun) masih sering kecolongan dalam mengatasinya. Masih banyak keluarga yang harus berduka cita karena kehilangan sanak saudaranya akibat demam berdarah. “Know your enemy and know yourself and you can fight a thousand battles without disaster” (Sun Tzu – The Art of War). Dalam artikel kali ini yuk kita lihat, kita kenal lagi musuh kita si DBD ini. Semoga kita akan bisa memenangkan pertempuran melawannya.
Pertama kita harus mengenal baik dulu demam berdarah. Demam berdarah merupakan penyakit yang banyak dan umum terdapat di negara tropis, seperti Brazil, Pakistan, India, Thailand, Vietnam, Malaysia dsb, termasuk Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue, yang ditularkan ke manusia melalui nyamuk Aedes aegypty atau Aedes albopictus. Demam berdarah banyak terdapat di negara tropis karena nyamuk perantaranya tersebut membutuhkan iklim yang hangat untuk berkembang biak.
Virus Dengue sendiri terdiri dari 4 strain, DEN1, DEN2, DEN3 dan DEN4, yang meski mirip tapi berbeda satu sama lain. Seseorang yang sudah terkena satu jenis strain, bisa terkena demam berdarah lagi dari strain yang lainnya dan bahkan bisa menjadi lebih fatal. Kenapa? karena sifat strain virus Dengue ini yang ‘sama tapi beda’. Jadi, jika terkena strain virus DEN1 misalnya, biasanya pasien akan membaik dan tubuh akan membentuk antibody yang mengenali DEN1 tersebut. Lalu, terkena lagi dari strain yang lain, DEN2 misalnya, nah sistem kekebalan tubuh bisa salah mengenali dan mengira kalau yang menyerang ini virus DEN1. Akibatnya, meski antibody tubuh berkumpul menghadang si virus, mereka gagal men-stop infeksi dari DEN2 tersebut dan malah memicu terjadinya suatu reaksi tubuh yang dikenal dengan nama ‘Antibody-Dependent Enhancement (ADE)’. Disini si virus Dengue yang tidak mati tersebut malah memanfaatkan antibody tubuh kita untuk ber-replikasi memperbanyak dirinya sendiri dan akibatnya infeksi kedua ini bisa lebih parah dari infeksi pertama, dan berakibat fatal.
Meski semua strain virus Dengue berpotensi fatal, terutama jika sebelumnya sudah pernah terkena serangan virus dari strain yang berbeda, ada kecenderungan virus DEN2 dan DEN3 untuk lebih berpotensi fatal dibandingkan virus DEN1 dan DEN4. Kemungkinan karena produksi virus DEN2 dan DEN3 lebih cepat dan lebih banyak sehingga serangan pun lebih berat.
Lessons learned: Seseorang bisa terkena demam berdarah lebih dari satu kali sepanjang hidupnya. Harus lebih waspada dan berhati hati dalam menangani kasus demam berdarah yang sudah berulang karena lebih beresiko ketimbang serangan pertama.
Demam berdarah tidak menular langsung dari manusia ke manusia melainkan melalui nyamuk sebagai perantaranya. Jadi setelah mengenal virus Dengue, sekarang kita coba mengenal nyamuk Aedes aegypty dan Aedes albopictus sebagai vektor perantara penularan virus Dengue ini ke manusia. Kedua jenis nyamuk ini memiliki ciri khas: warna belang putih di kakinya (lihat foto).
Melacak kanker pada tulang – Bone scan
kanker pada tulang menggunakan Bone Scan. Alat ini merupakan bagian dari pengembangan kedokteran nuklir. Setahuku di Jakarta hanya ada di empat Rumah Sakit, antara lain RS Pusat Pertamina, tempatku dirujuk untuk dilakukan bone scaning. Sepertinya cara kerja bone scan mirip dengan PET Scan (Positron Emission Tomography Scan), dalam hal mendeteksi metabolisme sel. Bedanya jika pada PET Scan sel-sel kanker diberi umpan glucosa bermuatan radio isotop agar melakukan kegiatan metabolisme (makan), pada bone scan radio isotop (tracer) dipakai melacak kegiatan metabolisme sel-sel tulang. Pada kejadian tertentu yang mengakibatkan kerusakan tulang, sel-sel tulang akan sibuk membelah diri untuk menggantikan sel yang rusak. Kegiatan ini membuat sel-sel tulang menyerap makanan bermuatan tracer lebih banyak dari pada sel-sel tulang yang sehat. Tracer yang memancarkan sinyal radio aktif inilah yang kemudian akan dimonitor menggunakan kamera khusus (gamma camera). Dimana ditemukan konsentrasi tracer yang tinggi (hot spot), dapat dipastikan disitu terdapat kelainan tulang. Sel kanker yang ada pada tulang juga akan menampakkan hot spot, karena sel kanker membelah diri lebih cepat dan makan lebih banyak dari pada sel normal. Agar tracer yang tertangkap kamera betul-betul berasal dari tulang, maka diperlukan waktu (3 jam) dan banyak minum untuk melarutkan tracer pada jaringan lunak. Pada jaringan lunak tracer lebih mudah larut dari pada di tulang. Walaupun kegiatan sel-sel tulang bisa juga disebabkan oleh hal lain seperti arthritis dan berbagai infeksi, tetapi jika sebelumnya telah ditemukan adanya sel kanker seperti kasusku, maka harus dicurigai adanya penyebaran kanker pada tulang. Alat utama bone scan terdiri dari sepasang kamera gamma yang terpasang pada dua lengan besar yang dapat digerakkan menelusuri seluruh tubuh. Sedangkan peralatan lainnya berupa seperangkat komputer yang akan merubah sinyal dari kamera gamma menjadi gambar. Sebelum scan dilakukan, terlebih dahulu disuntikkan zat radio aktif melalui pembuluh darah di lengan. Agar meresap ke seluruh tulang diperlukan waktu sekitar dua setengah hingga tiga jam. Selama itu aku harus banyak minum agar zat radio aktif yang tidak diperlukan segera larut. Sesaat sebelum scan dilakukan aku harus BAK agar radio aktif yang terkumpul dalam kandung kemih tidak memberi gambaran yang salah. Proses scaning dimulai dengan membuat pola lintasan kamera gamma mengikuti lekuk tubuh, sehingga kamera melintas dengan jarak kurang lebih 5cm dari permukaan tubuh. Proses scan berlangsung kurang lebih 20 menit. Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit, hasilnyapun dapat dilihat bahwa ternyata ada kegiatan pada tulang rusukku yang ke 8 dan 9 (costae VIII dan IX). Dalam ambulance yang membawaku kembali ke RS tempatku dirawat, walau sempat bercanda dengan perawat yang mengantarku, aku merasa sedih bahwa ternyata kanker telah menyebar ke tulang rusukku.
Melacak kanker di perut – CT Scan
Pada hari berikutnya melacak kanker berlanjut dengan mencari jejaknya di abdomen (rongga perut). Kali ini ada persiapan yang harus kujalani, aku harus berpuasa sejak jam 23 dan pagi harinya sejak jam 6 aku harus minum cairan putih mirip susu tiap jam sekali. Setelah gelas kelima kuminum pada jam 10 aku diantar ke radiologi untuk pemeriksaan rongga perut menggunakan CT Scan. Karena sudah beberapa kali melakukannya, aku tak canggung lagi. Yang tidak biasa (dan bikin perasaan yang sama sekali tidak nyaman) adalah sisa cairan mirip susu yang kira-kira masih satu gelas lagi dipompakan ke perut melalui … anus !. Selanjutnya pemeriksaan berjalan seperti biasa. Lagi-lagi yang tidak biasa, (walau perawat bilang biasa terjadi) perut jadi terasa mulas sehingga selama pemeriksaan aku terbata-bata menahannya. Gejala inipun tampaknya sudah biasa terjadi, sehingga begitu selesai pemeriksaan perawat menuntunku (yang terbungkuk-bungkuk menahan mulas) ke WC. Benar-benar pengalaman baru bagiku.
Tinggalkan sebuah Komentar