Pemeringkatan kanker (Cancer staging) MRI

Pemeringkatan (staging) kanker perlu dilakukan untuk menentukan jenis pengobatan yang akan diterapkan. Pada kasusku, dari lima parameter yang biasa dipakai dalam pemeringkatan kanker, sudah empat yang diketahui antara lain, jenis sel, lokasi tumor primer, ukuran dan jumlah tumor primer dan penyebaran ke kelenjar getah bening terdekat. Tinggal satu hal yang belum diketahui yakni metastasis atau penyebaran ke organ lain. Menurutku melacak sel kanker di sekujur tubuh lebih gampang dilakukan dengan PET Scan (Positron Emission Tomography Scan). Dengan cara ini sel kanker diberi umpan bermuatan radioisotop sehingga bisa dilacak menggunakan kamera khusus. Dengan sekali scan maka dimanapun sel kanker berada dapat segera terlacak. Sayang saat itu (tahun 2007) PET Scan belum ada di Indonesia. Pelacakan dimulai dengan pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk melacak adanya penyebaran pada otak. Konon untuk jaringan lunak seperti otak, pemakaian MRI lebih efektif dibanding CT Scan. Berbeda dengan CT Scan yang berbasis rontgen, MRI menggunakan magnet dan gelombang radio, yang cara kerjanya terlalu rumit untuk dapat kupahami. Alatnya mirip CT Scan, hanya lebih panjang sehingga menyerupai tabung berukuran besar dengan tempat tidur di tengahnya. Sebelum dilakukan pemeriksaan aku harus mengisi formulir yang berisi beberapa pertanyaan antara lain apakah pernah menjalani operasi pemasangan logam seperti pen penyambung tulang, alat pacu jantung, clip dsb. Aku harus mengganti pakaianku dengan jubah yang sudah disediakan, meninggalkan jam tangan, ikat pinggang, cincin dan dompetku dalam locker. Karena alat ini menggunakan magnet yang sangat kuat, maka benda-benda yang terbuat dari logam dapat tersedot ke arahnya. Setelah kupingku ditutup head-phone dan kepalaku dimasukkan ke dalam alat mirip sangkar, petugas meninggalkanku terbaring sendirian dalam tabung. Dari head phone terdengar lagu-lagu instrumentalia lembut. Sesaat setelah petugas memberi aba-aba agar aku tidak bergerak-gerak, terdengar tabung mulai mendengung, makin lama makin keras bahkan kemudian ditimpali pula dengan suara berkelontangan. Aku sempat khawatir, jangan-jangan alat ini rusak dan tiba-tiba meledak. Tetapi rupanya paramedis sudah hafal benar dengan gelagat ini. Kudengar melalui head phone dia memintaku untuk tetap tidak bergerak-gerak, dan menjelaskan bahwa suara gegap gempita yang kudengar itu normal. Kupikir pemeriksaan telah usai ketika suara-suara bising mulai mereda, tetapi ternyata belum. Seorang paramedis masuk ruangan dan menyuntikku dengan cairan untuk membuat gambar lebih kontras. Prosespun berulang. Selesai pemeriksaan MRI aku kembali ke ruang rawat, karena masih diperlukan beberapa pemeriksaan lagi.